30.000 Pengungsi Masih Terisolasi

Banjir Garut

GARUT(SI) – Sebanyak 30.000 warga Kecamatan Talegong,Kabupaten Garut,Jawa Barat,hingga kini masih terisolasi karena terputusnya akses jalan ke wilayah tersebut akibat longsor.

Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kecamatan Talegong dengan Kecamatan Pangalengan,Kabupaten Bandung, putus total akibat longsor setinggi 10 meter,lebar 5 meter sepanjang 20 meter,Sabtu (13/2).Akses menuju ke dua wilayah itu pun terhambat. Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Garut Elka Nur Hakimah mengatakan, saat ini sekitar 30.000 lebih warga dari tujuh desa di Talegong terpaksa harus tinggal di sejumlah tempat pengungsian. Dia menyebut antara lain di rumah dinas camat, SMPN Talegong, dan tenda-tenda darurat.

“Akibat akses jalan satu terputus, kami tidak bisa membawa kendaraan. Bantuan kemudian diangkut menggunakan kendaraan kecil atau ada juga yang terpaksa dipanggul oleh warga,” ujar Elka di Garut kemarin. Saat ini bantuan terpaksa dikirim melalui Kecamatan Pangalengan. Bupati Garut Aceng HM Fikri mengatakan, pemerintah kabupaten telah berupaya semaksimal mungkin agar bantuan dapat diterima secepatnya dan tepat sasaran oleh pengungsi di Talegong.Berbagai cara dilakukan untuk menghindari ada warga yang mengalami kekurangan pangan.

“Kami telah mengirimkan Taruna Siaga Bencana ke Kecamatan Talegong untuk membantu penanganan pengungsi dan bencana,” ujarnya kemarin. Fikri membantah tudingan yang mengatakan, Pemkab Garut membiarkan warga di pengungsian. Sementara itu, sebanyak 344 kepala keluarga atau 2.510 jiwa warga pengungsi korban tanah longsor dan banjir lumpur di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, meminta pemerintah setempat segera melakukan relokasi. Warga menilai kondisi 10 kampung di kecamatan ini tidak layak huni dan rawan banjir lumpur susulan.

Camat Samarang Rusmanah mengatakan, saat ini pemerintah setempat sedang fokus pada upaya tanggap darurat dan melakukan kajian teknis bersama institusi teknis terkait. Relokasi bukan satusatunya upaya untuk menyelesaikan permasalahan. Pada bagian lain, banjir besar yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Musi Rawas,Sumatera Selatan,yakni Muara Kelingi,Muara Lakitan, dan Bulang Tengah Suku Ulu (BTS),belum surut.Ketinggian banjir akibat meluapnya Sungai Musi itu bahkan mencapai 4-5 meter. Kondisi itu mengakibatkan sejumlah fasilitas umum dan pemerintahan seperti jalan, jembatan, masjid, sekolah, puskesdes, dan kantor desa terendam.

Aktivitas warga lumpuh total.Jalur lintas Sumatera yang menghubungkan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Banyuasin, tepatnya di Desa Lubuk Rumbai,Kecamatan Tuah Negeri,bahkan terancam putus akibat longsornya bahu jalan. Dari informasi yang diperoleh harian Seputar Indonesia, warga korban banjir belum menerima bantuan. Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Musi Rawas menyatakan, bantuan belum diberikan karena belum ada data akurat mengenai berapa banyak korban banjir di tiga kecamatan tersebut.

Musibah banjir juga menjadi perhatian serius Pemprov Jawa Timur. Untuk mengantisipasi korban jiwa, Pemprov Jatim menyatakan siaga satu di Kabupaten Bojonegoro. Semua aparat mulai disiagakan di Bojonegoro dan sekitarnya untuk mewaspadai banjir akibat luapan Sungai Begawan Solo. (dede ibin muhibbin/yopie cipta raharja/aan haryono)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s